Pembahasan Laporan Praktikum Farmasi Fisika

PEMBAHASAN Kelarutan 3
Pada tanggal 2 Maret 2015 telah dilaksanakan praktikum Farmasi Fisika yang berjudul “Kelarutan” yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan surfaktan pada kelarutan suatu zat. Kelarutan merupakan konsentrasi zat terlarut di dalam larutan jenuhnya pada suhu dan tekanan tertentu. Dalam definisi lain, kelarutan obat adalah jumlah ml pelarut di mana akan larut 1 gram zat terlarut.
Pada percobaan ini, akan ditentukan kelarutan asetosal dalam air dengan penambahan surfaktan. Ditambahkannya surfaktan karena asetosal sukar larut dalam air. Menurut teori kelarutan asetosal adalah (100 – 1000 bagian) dalam air atau 10 mg/ml pada suhu 20°C, sedangkan sampel yang kita gunakan seberat 1 gram dalam 50 ml air sehingga tentu sukar larut. Hal ini karena air sebagai zat terlarut mempunyai sifat polar sedangkan asetosal non polar. Perbedaan sifat ini menyebabkan perbedaan nilai konstanta dieletrik. Pelarut polar mempunyai nilai konstanta dieletrik yang tinggi, sehingga bisa melarutkan zat polar tetapi sukar melarutkan zat non polar. Oleh karena itu ditambahkanlah surfaktan.
Surfaktan adalah suatu zat yang sering digunakan untuk menaikan kelarutan. Molekul surfaktan terdiri atas 2 bagian, yaitu bagian polar dan non polar. Surfaktan yang digunakan adalah tween 80, berikut ini rumus strukturnya:

Ternyata terbukti bahwa bentuk molekulnya bisa dikatakan head (polar) dan tail (non polar) seperti pada surfaktan pada umumnya.
Ketika didispersikan dalam air pada konsentrasi rendah maka akan berkumpul pada permukaan dengan mengorientasikan bagian polar ke arah air dan bagian non polar ke arah udara. Kumpulan surfaktan akan membentuk lapisan monomolekuler. Selanjutnya bila permukaan cairan telah jenuh dengan molekul surfaktan maka molekul yang berada dalam cairan membentuk agregat disebut misel. Konsentrasi saat misel terbentuk disebut Konsentrasi Misel Kritik (KMK).
Sifat penting misel yaitu kemampuan dalam menaikan kelarutan zat-zat yang sukar larut dalam air proses ini dikenal dengan solubilisasi miselar. Solubilisasi terjadi karena molekul zat yang sukar larut berasosiasi dengan misel membentuk larutan jernih dan stabil secara termodinamika. Lokasi molekul zat terlarut dalam misel tergantung pada polaritas zat tersebut. Titik KMK adalah titik di mana penambahan surfaktan tidak lagi mempengaruhi tegangan permukaan. Setelah dilalui titik KMK maka penambahan surfaktan berpengaruh terhadap solubilisasi miselar dimana pada keadaan ini akan terjadi pelarutan spontan zat melalui interaksi misel dan surfaktan.
Berikut adalalah gambaran mekanisme kerja solubilitasi miselar:
  
 
Pertama, surfaktan dimasukan ke dalam larutan. Kemudian molekul surfaktan memposisikan kepala (polar) ke air dan ekor (non polar) ke udara. Lama kelamaan molekul surfaktan menjadi sangat rapat. Saat KMK tercapai, molekul surfaktan akan berkumpul membentuk misel, zat trelarut  akan masuk melalui celah tersebut sehingga kelarutan akan meningkat.
Pada percobaan ini, digunakan tween 80 dengan konsentrasi yang bervariasi, yaitu 0 mg/ml; 0,1 mg/ml; 0,5 mg/ml; 1 mg/ml; 5 mg/ml; 10 mg/ml; 20 mg/ml; 50 mg/ml; dan 100 mg/ml dalam 50 ml air, sedangkan berat asetosal tetap, yaitu 1 gram. Hal ini supaya kita dapat mengetahui pengaruh penambahan tween 80 terhadap kelarutan asetosal dan menentukan KMKnya.
Setelah larutan tween 80 dengan berbagai konsentrasi dibuat dan ditambahkan asetosal 1 gram, dilakukan menggojogan selama 30 menit. Semua larutan lewat jenuh karena terdapat endapan, sehingga tidak dilakukan penambahan asetosal lagi.
Menurut teori, kelarutan adalah konsentrasi zat terlarut di dalam larutan jenuhnya pada suhu dan tekanan tertentu. Pada percobaan ini, kita memang tidak menggunakan variasi suhu maupun tekanan, tapi yang perlu diperhatikan bahwa kelarutan merupakan konsentrasi zat terlarut, dalam hal ini adalah asetosal di dalam larutan jenuhnya, akan tetapi kita tidak mengetahui pasti perbandingan antara asetosal dalam pelarut untuk membentuk larutan jenuhnya, oleh karena itu kita buat larutan lewat jenuh kemudian dilakukan penyaringan menggunakan kertas saring dan corong untuk mendapatkan larutan jenuh.
Kemudian, hasil saringan itu di oven selama 30 menit supaya yang kita dapat hanya zat terlarutnya saja. Setelah dingin, berat sisa setelah di oven (residu) ditimbang, didapatkan hasil sebagai berikut: 0,72 g; 0,65 g; 0,65g; 0,64 g; 0,61 g; 0,5 g; 0,47 g; 0,34 g; dan 0,18 g. Sehingga didapatkan berat zat terlarut sebagai berikut: 280 mg; 350 mg; 350 mg; 360 mg; 390 mg; 500 mg; 530 mg; 660 mg; dan 820 mg.
Setelah dilakukan perhitungan, didapatkan nilai kelarutan asetosal sebagai berikut: 5,6 mg/ml; 7 mg/ml; 7 mg/ml; 7,2 mg/ml; 7,8 mg/ml; 10 mg/ml; 10,6 mg/ml; 13,2 mg/ml; dan 16, 4 mg/ml. Dari hasil tersebut, terlihat bahwa semakin tinggi konsentrasi tween 80 meningkatkan kelarutan asetosal. Pada konsentrasi 0 mg/ml yang merupakan pembanding, karena hanya air sebagai pelarut, jelas berbeda saat konsentrasi twwen 80 0,1 mg/ml, menunjukan tween 80 memang meningkatkan kelarutan asetosal. Pada konsentrasi tween 80 rendah, yaitu 0 mg/ml; 0,1 mg/ml; dan 1 mg/ml peningkatan kelarutan rendah, namun ketika melewati konsentrasi 5 mg/ml; yaitu 10 mg/ml; 20 mg/ml; 50 mg/ml; dan 100 mg/ml sangat meningkatkan kelarutan asetosal. Hal ini berarti pada konsentrasi tween 80 5 mg/ml merupakan Konsentrasi Misel Kritik (KMK). Sehingga jika kita akan menggunakan tween 80 untuk meningkatkan kelarutan asetosal, konsentrasinya harus lebih besar dari itu, jika kurang dari KMKnya maka peningkatan kelarutan hanya sedikit.
Menurut teori, KMK akan tercapai pada saat konsentrasi tween 80 sebesar 10 mg/ml, namun berdasarkan hasil praktikum KMK tercapai pada konsentrasi tween 80 5 mg/ml. Perbedaan ini dapat disebabkan beberapa hal, seperti penggojogan yang tidak konstan, terlalu kuat atau terlalu lemah karena dilakukan secara manual oleh orang berbeda dengan kekuatan yang berbeda pula.

KESIMPULAN
            Berdasarkan hasil praktikum, disimpulkan bahwa tween 80 sebagai surfaktan dapat meningkatkan kelarutan asetosal dalam air, yang pada dasarnya sukar larut jika pelarutnya air saja.
Saat konsentrasi tween 80 0 mg/ml atau pelarutnya air saja kelarutan rendah, yaitu 5,6 mg/ml. Sedangkan saat konsentrasi tween 80 meningkat, yaitu 0,1 mg/ml; 0,5 mg/ml; 1 mg/ml; 5 mg/ml; 10 mg/ml; 20 mg/ml; 50 mg/ml; dan 100 mg/ml, kelarutan asetosal meningkat pula, yaitu 7 mg/ml; 7 mg/ml; 7,2 mg/ml; 7,8 mg/ml; 10 mg/ml; 10,6 mg/ml; 13,2 mg/ml; dan 16, 4 mg/ml.

Konsentrasi Misel Kritik (KMK) tercapai saat konsentrasi tween 80 5 mg/ml, sedangkan menurut teori pada saat konsentrasi 10 mg/ml. Hal ini karena penggojogan yang tidak konstan karena dilakukan secara manual oleh orang berbeda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembahasan Laporan Praktikum Farmasi Fisika

Makalah Alang-Alang