Makalah Alang-Alang

BAB I
                                   PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Obat merupakan produk organik atau anorganik dari tumbuhan yang dikeringkan atau segar, bahan hewan atau mineral yang aktif dalam penyembuhan  penyakit tetapi dapat juga menimbulkan efek toksik bila dosisnya terlalu tinggi atau pada kondisi tertentu penderita. Dari definisi tersebut, jelas bahwa salah satu sumber obat adalah tumbuhan, sehingga sering disebut tumbuhan obat.
Tumbuhan obat atau bisa disebut obat herbal adalah tumbuhan yang mempunyai zat aktif yang berguna untuk menyembuhkan atau mencegah timbulnya suatu penyakit. Saat ini mulai  marak penggunaanya, karena obat herbal terbukti tidak menimbulkan efek samping yang berbahaya sehingga lebih aman dibandingkan obat kimia.
Salah satu tumbuhan obat di Indonesia adalah alang-alang. Kebanyakan orang hanya mengetahui alang-alang merupakan sejenis rumput berdaun tajam yang kerap menjadi gulma di lahan pertanian dan merugikan, namun dibalik itu terdapat khasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit, seperti mimisan, radang ginjal dan lain lain.
            Kita perlu mengetahui mengenai alang-alang lebih dalam supaya khasiat yang terkandung di dalamnya bisa dimanfaatkan sebaik mungkin. Oleh karena itu, perlu disusun sebuah makalah yang bisa menjelaskan tentang alang-alang dan khasiatnya, maka penulis menulis sebuah makalah yang berjudul “Pengkajian Morfologi dan Sistematika serta Khasiat Tanaman Obat Alang-Alang (Imperata cylindrical Beauv.)”.
B.  Rumusan Masalah
Alang-alang adalah tanaman yang dianggap merugikan apalagi oleh petani karena dianggap sebagai gulma yang mengganggu lahan pertanian, padahal alang-alang berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit jika kita tahu cara mengolahnya. Berdasarkan hal tersebut, penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1.    Bagaimana deskripsi morfologi alang-alang?
2.    Bagaimana habitat dan penyebaran alang-alang?
3.    Bagaimana klasifikasi alang-alang?
4.    Bagaimana kandungan atau zat aktif alang-alang?
5.    Bagaimana khasiat alang-alang?
6.    Bagaimana prosedur cara pemakaian alang-alang?

C.  Tujuan Makalah
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk :
1.    Mengetahui deskripsi morfologi alang-alang
2.    Mengetahui habitat dan penyebaran alang-alang
3.    Mengetahui klasifikasi alang-alang
4.    Mengetahui kandungan atau zat aktif dari alang alang
5.    Mengetahui khasiat alang-alang
6.    Mengetahui prosedur cara pemakaian alang-alang


D.  Kegunaan Makalah
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoretis maupun secara praktis. Secara teoretis makalah ini berguna di bidang keilmuan dan kesehatan. Secara praktis makalah ini diharapkan bermanfaat bagi,
1.    Penulis, sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep keilmuan, khususnya tentang alang-alang manfaatnya
2.    Pembaca, sebagai media informasi alang-alang dan manfaatnya

















BAB II
PEMBAHASAN
A.  Tinjauan Pustaka
1.    Deskripsi Morfologi Alang-alang
Tak kenal maka tak sayang, pepatah itu patut diamalkan. Jadi supaya kita mengerti seperti apa alang-alang itu sebernarnya, maka kita harus mengenalnya. Pertama kita pahami dulu deskripsi morfologi dari alang-alang, supaya kita tidak salah menerka mengenai bentuk morfologi alang-alang. Berikut disajikan beberapa penjelasan dari berbagai sumber.
Agoes (2010:1) berpendapat, “Alang-alang adalah jenis rumput menahun dengan tunas panjang, bersisik, dan merayap dibawah tanah liat. Tanaman ini memiliki ujung (pucuk) tunas runcing dan tajam seperti ranjau duri yang muncul di tanah. Alang-alang berbatang pendek, menjulang naik ke atas tanah, dan tingginya berkisar 0,2 - 1,5 m. Bunganya terkadang memiliki rambut di bawah buku yang berwarna (merah) keunguan.”
Latief (2012:17) berpendapat,“...Tinggi 30 - 180 cm. Batang padat dan daun seperti rumput.
Dalimartha (2006:2) berpendapat,“...Tanaman yang mudah menjadi banyak ini bisa ditemukan pada ketinggian 1 - 2.700 m di atas permukaan laut(dpl.). Terna setahun ini tumbuh tegak dengan tinggi 30 -1 80 cm, berbatang padat, dan berbuku-buku yang berambut jarang. Daun berbentuk pipa, tegak, berujung runcing, tepi rata, berambut kasar dan jarang. Warna daun hijau, panjang 12 - 80 cm, dan lebar 5-18 mm. Perbungaan berupa bulir majemuk dengan panjang  tangkai bulir 6 - 30 cm. Panjang bulir sekitar 3 mm, berwarna putih, agak menguncup, dan mudah diterbangkan angin. Pada satu tangkai terdapat dua bulir bersusun. Yang terletak di atas adalah bunga sempurna, sedang yang di bawah adalah bunga mandul. Pada pangkal bulir terdapat rambut halus yang panjang dan padat berwarna putih. Biji jorong dengan panjang sekitar satu mm berwarna cokelat tua. Akar kaku, berbuku-buku, dan menjalar”.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa alang-alang berbentuk seperti rumput dengan tinggi 30-180 cm.

2.    Habitat dan Penyebaran Alang-alang
Untuk memudahkan kita menemukan alang-alang, maka akan dijelaskan mengenai habitat dan penyebaran alang-alang dari berbagai sumber.
Dalimartha (2006:2) berpendapat,  “Alang-alang tumbuh liar di hutan, ladang, lapangan rumput, dan tepi jalan pada daerah kering yang mendapat sinar matahari.”
Bairagee, Arati dan Jatin Kalita (2004:1432) berpendapat, “A randomized-block experiment was carried out in Pabitora Wildlife Sanctuary to study the ecology and the growth of Imperata cylindrica in both managed and non-managed areas. I. cylindrica increased in abundance in disturbed/ managed plots and declined in abundance in unmanaged plots. I. cylindrica its a shade-intolerant grass species and therefore a built up of litter and increased shading on the unmanaged plots may result in a decline in its abudance and an increase in the abundance of shade-tolerant grasses. After cutting burning of grazing. I. cylindrica is the first species to resprout and grow dominantly over other species.”
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa alang-alang dapat tumbuh dan menyebar di berbagai tempat asal terkena sinar matahari.

3.    Klasifikasi Alang-alang
Berdasarkan ilmu taksonomi, tumbuhan telah dibagi menjadi beberapa bagian. Untuk mengenal lebih jauh mengenai alang-alang, berikut disajikan klasifikasi alang-alang dari berbagai sumber.
Latief (2012:17) berpendapat, ...” suku Poaceae”.
Agoes (2010:1) berpendapat, “Alang-alang atau ilalang (Imperata cylindrical Beauv.) termasuk ke dalam famili Gramineae atau Poaceae, anak suku Panicoideae”.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa alang-alang atau ilalang (Imperata cylindrical Beauv.) termasuk ke dalam famili atau suku Gramineae atau Poaceae dan anak suku Panicoideae.

4.    Kandungan atau Zat Aktif dari Alang-alang
Supaya kita bisa mendapatkan manfaat baik alang-alang, tentu harus mengetahui dulu kandungan apa saja di dalam alang-alang. Oleh karena itu, akan dipaparkan kandungan atau zat aktif dalam alang-alang dari berbagai sumber.
Latief (2012:17) berpendapat, “Kandungan kaliumnya yang sangat tinggi...”.
Agoes (2010:1) berpendapat,  “Alang-alang diketahui mengandung manitol, glukosa, sukrosa, asam malat, asam sitrat, coixol, anindom, dan masih banyak lagi”.
Arief (2011:8) berpendapat, “Beberapa bahan yang terkandung dalam alang-alang di antaranya manitol, glukosa, sukrosa, malic acid, citric acid, coixol, arundoin, cylindrin, fernenol, simiarenol, anemonin, asam kersik, damar, logam alkali, saponin, tanin, dan polofenol”.
Dalimartha (2006:2) berpendapat, “Akar dan batang alang-alang mengandung manitol, glukosa, sakarosa, malic acid, citric acid, coixol, arundoin, cylindrene, cylindol A, graminone B, imperanene stigmasterol, campesterol, β-sitosterol, fernenol, arborinol, isoarborinol simiarenol, anemonin, dan tanin”.
Dapat disimpulkan bahwa alang-alang mempunyai banyak kandungan atau zat aktif yang berguna bagi kesehatan.

5.      Khasiat Alang-alang
Alang-alang merupakan salah satu tanaman obat Indonesia, maka dari itu kita harus mengetahui khasiat dari alang-alang supaya dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Berikut telah disajikan beberapa khasiat alang-alang dari beberapa sumber.
Arief (2011:8)  berpendapat, “.... penurun panas, peluruh kencing (diuretik), menghentikan pendarahan (hemostatik), menghilangkan haus...”
Latief (2012:17) berpendapat, “...berkhasiat antipiretik (menurunkan panas) dan diuretik (melancarkan buang air kecil). Selain itu, alang-alang dapat digunakan untuk menghentikan pendarahan”.
Mak-Mensah, E.E. et al. (2010:1486) berpendapat, “This work was carried out to determine antihypertensive effect of ethanolic extract of Imperata cylindrical leaves using cat and rabbit models. A freeze dried 70% ethanolic extract was prepared and increasing concentrations from 10 to 320 mg/ml were administered in vivo to anaesthetized cats and in vitro to rabbit jejunum. Adrenaline and phentolamine were used as control drugs. The extract exhibited a significant dose-dependent reduction in amplitude of contraction of smooth muscle cells of rabbit jejunum in comparison with standard antihypertensive drug, adrenaline. The heart pressure of the cats was significantly reduced with 160 and 320 mg/ml of the extract from 266 to 180 mmHg (p = 0.012) but there was no effect on the heart rate. The minimum effective dose EC50 was 0.013. Ethanolic leaf extract of I. cylindrica exhibited vasodilative antihypertensive properties similar to mechanism of action of adrenaline. The extract could be used to manage hypertension.”
Dapat disimpulkan bahwa alang-alang mempunyai banyak khasiat untuk mengobati berbagai penyakit, contohnya penurun panas, peluruh kencing (diuretik), menghentikan pendarahan (hemostatik) dan hipertensi.

6.      Prosedur Cara Pemakaian Alang-alang
Sebelum kita gunakan sebagai obat, tentu alang-alang harus diolah terlebih dahulu. Berikut merupakan prosedur cara pemakaian alang-alang dari beberapa sumber.
Dalimartha (2006:2) berpendapat, “Untuk obat yang diminum, rebus akar alang-alang kering (15—30 g) –bila menggunakan yang segar, jumlahnya 30 sampai 60 g—bunga (5—10 mg), dan tunas muda (5—10 g). Bisa juga akar segar ditumbuk dan diperas airnya, atau yang kering digiling untuk dijadikan bubuk. Untuk pemakaian luar, bulir bunga berikut tangkainya digiling halus dan dibubuhi pada luka atau disumbatkan ke hidung untuk menghentikan pendarahan.”
Dapat disimpulkan bahwa tanaman dapat digunakan untuk pemakaian luar ataupun diminum.

B.  Pembahasan
1.    Deskripsi Morfologi Alang-alang
Alang-alang atau ilalang  mempunyai nama yang berbeda di berbagai daerah di Indonesia, juga di berbagai negara seperti alalang, halalang (Minang), lalang (Melayu, Madura, dan Bali), eurih (Sunda), rih (Batak), jih (Gayo), re (Sasak, Sumbawa), rii, kii, ki (Flores), rie (Tanibar), reya (Sulawesi Selatan), eri, weri, weli, (Ambon dan Seram), kusu-kusu (Manado, Ternate, dan Tidore), nguusu (Halmahera), wusu, wutsu (Sumba), neleng laku (Aceh), kalepip (Irian) dan lain lain. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai bladygrass, congongrass, speargrass, silver-spike, atau secara umum disebut satintail, mengacu pada malai bunganya yang berambut putih halus. Orang Belanda menamainya snijras, karena sisi daunnya yang tajam melukai.
Berikut adalah bagian-bagian dari tanaman alang-alang yang dibahas lebih mendetail :
a.    Daun (Folium)

Daun alang-alang termasuk daun tunggal (folium simplex) dengan tipe daun tak lengkap karena hanya terdiri dari 2 bagian saja, yaitu pelepah atau upih (vagina) berwarna putih keunguan dan helaian daun (lamina), sehingga disebut daun berupih atau daun berpelepah. Ada lidah-lidah atau ligula pada perbatasan upih daun dengan helaian daun.
Daun alang-alang mempunyai sifat sebagai berikut :
1)   Bangun daun (circumscriptio) : daun tidak ada yang lebar dan termasuk tipe pita (lingulatus).
2)   Bentuk ujung daun (apex folii) : tipe runcing (acutus).
3)   Bentuk pangkal daun (basis folii) : tipe meruncing (acuminatus)
4)   Susunan tulang daun (nervatio) : tipe sejajar (rectinervis).
5)    Tepi daun (margo folii) : tipe rata (integer).
6)    Daging daun (intervenium) : tipis seperti kertas (papyraceus)
7)   Warna daun : hijau dengan permukaan atas lebih gelap dari permukaan   bawah        
8)   Permukaan daun : licin (laevis)

b.   Batang (Caulis)
            Alang-alang merupakan tanaman yang jelas berbatang dengan tipe batang rumput (calmus) dengan ciri-ciri tidak keras, mempunyai ruas-ruas dan berongga.
            Batang alang-alang mempunya sifat sebagai berikut :
1)   Bentuk batang : bulat (teres)
2)   Sifat permukaan batang : licin (laevis)
3)   Arah tumbuh batang : tegak lurus (erectus)
4)   Percabangan pada batang : batang pokok tidak terlihat jelas (simpodial)

c.    Akar (Radix)
Menurut Rahardi (Steenis, 1958), “Sistem pengakaran berupa sistem serabut, yang muncul dari nodus atau buku-buku batang. Panjangnya ± 5 cm, sistem pengakaran ini ditunjang oleh rimpang yang kuat, sehingga alang-alang sulit dicabut. Rimpang yang tumbuh secara agresif, tumbuhan tahunan (parennial) yang kuat dengan percabangan terbenam dalam tanah (yang panjangnya dapat mencapai 1 m), berdaging, rimpangnya bersisik”.

d.   Bunga (Flos)
      
           

Alang-alang mempunyai bunga yang majemuk, bentuk bulir (spica) tanpa mahkota bunga, agak menguncup , bertangkai panjang, setiap bulir berekor puluhan helai rambut putih sepanjang 8 - 14 mm, mudah diterbangkan angin, panjang 6 - 28 cm, setiap cabang memiliki 2 bulir, cabang 2,5 – 5 cm, tangkai bunga 1 - 3 mm, gluma 1; ujung bersilia, 3 - 6 urat, Lemma 1 (sekam); bulat telur melebar, silia pendek 1,5 - 2,5 mm. Lemma 2 (sekam); memanjang, runcing 0,5 - 2,5 mm. Palea (sekam); 0,75 - 2 mm. Benang sari: kepala sari 2,5 - 3,5 mm, putih kekuningan atau ungu. Putik: kepala putik berbentuk bulu ayam. Penyerbukannya dibantu oleh angin (anemokori).

e.      Buah (Fructus)

Menurut Rahardi (Steenis, 1958), “Buah berjebis bulir, berupa bulir-bulir kecil bertangkai pendek tidak berjarum, berpasang-pasangan pada ujung sumbu malai, kedua-duanya bertangkai, pada kaki terdapat rambut-rambut putih mengkilat yang berkarang. Buah yang masak warna coklat, berguna untuk melayang.

f.       Biji (Semen)

Menurut Rahardi (Steenis, 1958), “Biji jarang, panjang sekitar 11 mm, warnanya coklat tua. Biji yang sudah tua mudah diterbangkan angin, tersebar dan yang akhirnya menjadi tumbuhan baru.

2.    Habitat dan Penyebaran Alang-alang
Menurut Rahardi (Rismunandar,1986), “Imperata cylindrica merupakan tanaman kosmopolitan, mudah dijumpai pada daerah kering yang cerah sinar matahari, terdapat di 1-2700 m di atas permukaan laut. Imperata cylindrica cepat kering dan mudah terbakat pada musim kemarau dan cepat tumbuh kembali pada musim hujan.
Sifat fisik tanah yang dikehendaki yaitu tanah kapur yang memiliki tubuh tanah kering, miskin akan zat hara dan air. Tanaman ini menyukai tempat yang memperoleh banyak cahaya dan tidak dapat tumbuh bila mendapat naungan penuh. Meskipun tumbuh pada kisaran tipe tanah dan tingkat kesuburan yang luas, spesies ini tumbuh dengan sehat pada tempat bertanah basah yang tinggi kesuburannya. pH tanah untuk menumbuhkan spesies ini berkisar antara 4,0—7,5. Tumbuhan ini juga toleran terhadap kondisi-kondisi panas yang tinggi dan tempat-tempat mengandung sulfur dekat kawah.”
Alang-alang dapat berkembang biak dengan cepat, baik dengan benih-benihnya yang tersebar cepat dibawa angin atau melalui rimpangnya yang mudah menembus tanah yang gembur. Tanaman ini dengan segera menguasai lahan bekas hutan yang rusak dan terbuka, bekas ladang, sawah yang mengering, tepi jalan, dan lain lain.
Alang-alang menyebar alami mulai dari India hingga Asia Timur, Asia Tenggara, Mikronesia, dan Australia. Kini alang-alang ditemukan di Asia Utara, Eropa, Afrika, Amerika, dan di beberapa kepulauan.
Secara umum, alang-alang melindungi lahan-lahan terbuka yang mudah tererosi. Kecepatan tumbuh, jalinan rimpang alang-alang di bawah tanah, serta tutupan daunnya yang rapat, memberikan manfaat perlindungan yang dibutuhkan itu. (Agoes, 2010:2)

3.    Klasifikasi Alang-alang
Klasifikasi alang-alang berdasarkan taksonomi adalah sebagai berikut :
Kingdom          : Plantae (Tumbuhan)
Divisio             : Spermatophyta (Tumbuhan Biji)
            Tumbuhan biji merupakan golongan tumbuhan dengan tingkat perkembangan filogenetik tertinggi, yang sebagai ciri khasnya ialah adanya suatu organ yang berupa biji (dalam bahasa Yunani : sperma).
             Bersama-sama dengan tumbuhan paku tumbuhan biji telah merupakan tumbuhan kormus sejati. Tubuh jelas dapat dibedakan dalam tiga bagian pokoknya, yaitu akar, batang, dan daun. Selain itu, tubuh tumbuhan biji mempunyai pula bagian-bagian lain yang merupakan metamorfosis bagian-bagian pokok tadi ditambah lagi dengan berbagai macam organ-organ tambahan. Dari bagian-bagian tubuh tumbuhan biji sporofillah yang telah mengalami perkembangan sedemikian rupa, sehingga sifatnya sebagai daun hampir hilang sama sekali. Lagi pula sporofil-sporofil itu telah terangkai dalam berbagai bentuk kumpulan sporofil, yang mencapai puncaknya dalam bentuk organ yang kita sebut bunga. Itulah sebabnya golongan tumbuhan biji ini disebut pula Anthophyta atau tumbuhan bunga (dari bahasa Yunani, anthos = bunga; phyton = tumbuhan).
Sub divisio       : Angiospermae (Tumbuhan Biji Tertutup)
Class (Kelas)    : Monocotyledoneae
            Angiospermae terdiri atas tumbuhan kayu dan tumbuhan berbatang basah. Diferensiasi yang lebih lanjut tampak dari adanya trakea (buluh-buluh kayu) dalam xilem dan sel-sel pengiring dalam floem. Daun-daunnya bertulang menyirip atau menjadi pada Dicotyledoneae (tumbuhan biji belah) dan bertulang sejajar atau melengkung pada Monocotyledoneae (tumbuhan biji tunggal).
Ordo (Bangsa)  : Poales (Glumiflorae)
Family              : Poaceae (Graminae)
Genus               : Imperata
Species             : Imperata cylindrica L.
            Bangsa Poales hanya terdiri atas satu suku, yaitu Poaceae atau Gramineae yang warganya berupa terna anual atau perenial, kadang-kadang berupa semak atau pohon tinggi. Batang dengan posisi yang bermacam-macam, ada yang tegak lurus, ada yang serong ke atas, ada yang berbaring atau merayap, kadang-kadang dengan rimpang di dalam tanah. Bentuk batang kebanyakan seperti silinder panjang, jelas berbuku-buku dan beruas-ruas, ruas-ruas berongga, bersekat pada buku-bukunya. Daun kebanyakan bangun pita, panjang, bertulang sejajar, tersusun sebagai rozet akar atau berseling dalam 2 baris pada batang, umumnya terdiri atas helaian, upih, dan lidah-lidah, jarang antara helaian dan upih terdapat tangkai. Bunga umumnya banci, kadang-kadang berkelamin tunggal, kecil, dan tidak menarik. Tiap bunga terdapat dalam ketiak daun pelindung yang pada suku ini disebut “palea inferior”. Kelopak telah berubah menjadi badan yang disebut “paleasuperior”, terdiri atas 2  daun kelopak yang berdekatan, berhadapan dengan palea inferior, mahkota terdiri atas 2 daun mahkota (jarang 3), yang telah berubah menjadi badan seperti sisik kecil dan dapat membengkak dan dinamakan “lodicula”. Benang sari 1 – 6, jarang lebih, biasanya 3, tangkai sari halus, kepala sari beruang 2, biasanya membuka dengan celah membujur. Bunga demikian itu disebut bunga semu (“floret”) yang terpisah-pisah atau bersama dengan floret lain, tersusun dalam 2 baris pada suatu tangkai, membentuk suatu bulir kecil yang pada pangkalnya mempunyai 2 daun pelindung tanpa bunga pada ketiaknya yang disebut “gluma”. Satu floret atau lebih dengan gluma membentuk suatu bulir kecil, yang terangkai dalam bunga majemuk berganda dengan berbagai ragam susunan, malai, tandan, atau bulir. Dalam setiap floret bakal buahnya menumpang, beruang 1 dengan bakal biji anatrop yang sering kali menempel pada sisi daun buah yang menghadap sumbu. Tangkai putik biasanya 2, jarang 1 atau 3, kepala putik seperti bulu. Buah biasanya berupa buah padi (“caryopsis”), yaitu buah dengan 1 biji yang bijinya berlekatan dengan kulit buah, jarang berupa buah buni atau buah keras. Biji dengan endosperm, lembaga terdapat pada sisi yang jauh dari sumbuh.
            Suku ini merupakan suku terbesar (bila dilihat dari jumlah jenis tumbuhan yang menjadi warganya), meliputi lebih dari 4.000 jenis, terbagi dalam lebih dari 400 marga, distribusinya meliputi seluruh dunia.
Contoh :
Imperata : I. cylindrica (lalang)

4.    Kandungan atau Zat Aktif dari Alang-alang
Akar dan batang alang-alang mengandung manitol, glukosa, sakarosa, malic acid, citric acid, coixol, arundoin, cylindrene, cylindol A, graminone B, imperanene, stigmasterol, campesterol, beta-sitosterol, fernenol, arborinone, arborinol, isoarborinol, simiarenol, anemonin dan tanin.
Berikut merupakan beberapa struktur kandungan zat aktif pada alang-alang :
a)    Struktur Manitol
b)   Struktur Glukosa

c)    Struktur Sakarosa
d)   Struktur malic acid (asam malat)

e)    Struktur citric acid (asam sitrat)


5.      Khasiat Alang-alang
  • Akar atau rimpang alang-alang berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, diantaranya:
1)      Muntah darah
2)      Pendarahan pada hidung (mimisan)
3)      Urine berdarah (kencing berdarah)
4)      Kencing nanah
5)      Hepatitis akut menular
6)      Rasa haus pada penyakit campak
7)      Radang ginjal akut
8)      Muntah darah
9)      Peluruh kencing (diuretik)
10)  Infeksi saluran kemih
11)  Asam urat (gout artritis)
12)  Badan lemah dan tidak bersemangat
13)  Batu ginjal (nefrolitiasis)
14)  Batuk darah (hemoptisis)
15)  Bengkak (edema)
  • Tunas muda alang-alang berkhasiat untuk peluruh kencing (diuretik).

6.    Prosedur Cara Pemakaian Alang-alang
1)      Muntah darah
Cuci akar alang-alang segar (30 – 60 g), lalu potong-potong. Rebus dengan tiga gelas air sampai tersisa satu gelas. Minum setelah dingin. Lakukan 2-3 kali sehari.
2)      Pendarahan pada hidung (mimisan)
Ada 3 cara, yaitu :
  • Cuci akar alang-alang segar, lalu potong-potong. Tumbuk dan peras sampai airnya terkumpul 100 cc. Minum.
  • Rebus akar alang-alang segar (30 g) dengan tiga gelas air sampai tersisa satu gelas. Minum setelah dingin.
  • Bulir bunga berikut tangkainya digiling halus dan dibubuhi pada luka atau disumbatkan pada hidung.
3)      Urine berdarah (kencing berdarah)
Cuci bersih 100 g akar alang-alang segar sampai bersih, potong kecil-kecil, lalu rebus dengan 8 gelas air. Setelah tersisa 4 gelas, bagi menjadi 3 bagian yang sama untuk diminum 3 kali sehari.
4)      Kencing nanah
Cuci 300 g akar alang-alang segar sampai bersih lalu potong kecil-kecil menjadi beberapa bagian. Rebus potongan akar tersebut dengan 8 gelas air sampai tersisa 5 gelas. Bagi menjadi 3 bagian  yang sama lalu minum 3 kali sehari masing-masing 1 bagian.
5)      Hepatitis akut menular
Cuci bersih 60 g akar alang-alang kering lalu rebus dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Minum air rebusan 2 kali sehari, masing-masing ½ gelas. Lakukan pengobatan selama 10 hari.
6)      Rasa haus pada penyakit campak
Rebus akar alang-alang segar (30 g) dengan air secukupnya. Setelah dingin, minum sebagai teh.
7)      Radang ginjal akut
Cuci akar alang-alang (60 – 120 g), daun kumis kucing (30 g), daun sendok (30 g), dan daun sambiloto (40 g), lalu potong-potong. Rebus dengan lima gelas air sampai tersisa dua gelas. Setelah dingin, bagi dua sama banyak untuk diminum pada pagi dan sore hari.
8)      Muntah darah
Cuci 300 g akar alang-alang segar sampai bersih lalu potong-potong. Rebus dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, minum sekaligus 1 kali sehari. Lakukan rutin sampai sembuh.
9)      Peluruh kencing (diuretik)
Cuci bersih 10 g akar alang-alang segar lalu rebus dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Dinginkan, saring, lalu minum sekaligus 1 gelas sehari.
Tunas muda juga bisa digunakan untuk peluruh kencing (diuretik).
10)  Infeksi saluran kemih
Seduh rimpang alang-alang sebanyak 6 g, rimpamg kunci pepet 5 g, daun tumis kucing 4 g, dan air 115 ml. Semua bahan, dibuat dalam bentuk infus atau pil. Selanjutnya, minum 1 kali sehari, masing-masing 100 ml. Untuk yang berbentuk pil diminum 3 kali seharinsebanyak 9 pil. Ulangi selama 14 hari.
11)   Asam urat (gout artritis)
Cuci bersih 30 g tumbuhan tumis kucing kering, 15 g ceplukan kering (30 g segar) dan 60 g akar alang-alang segar. Rebus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, lalu saring. Minum masing-masing 200 cc 2 kali sehari.
12)  Badan lemah dan tidak bersemangat
Cuci bersih 6 buah cabai jawa, 30 g akar alang-alang, 20 g akar lempuyung wangi, 15 g jahe dan gula aren secukupnya. Rebus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, lalu saring. Tambahkan madu, lalu minum sehari 150 cc 2 kali sehari.
13)  Batu ginjal (nefrolitiasis)
Cuci bersih 30 g daun sendok, 60 g krokot hijau dan 60 g akar alang-alang. Rebus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, lalu saring. Minum 20 cc 2 kali.
14)  Batuk darah (hemoptisis)
Cuci bersih 60 g pegagan segar, 60 g akar alang-alang segar dan 30 g tumbuhan urang-aring segar. Rebus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, lalu saring. Minum 2 kali sehari.
15)  Bengkak (edema)
Cuci bersih 60 g akar alang-alang segar, 30 g meniran segar dan 30 g kulit semangka. Rebus dengan 800 cc air hingga tersisa 450 cc, lalu saring. Minum airnya 150 cc 3 kali sehari. (Untuk pembekakan karena penyakit ginjal)





BAB III
PENUTUP
A.  Simpulan
Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, penulis dapat mengemukaan simpulan sebagai berikut,
1.      Morfologi setiap tumbuhan berbeda berdasarkan klasifikasinya masing-masing.
2.      Alang-alang (Imperata cylindrica L.) merupakan salah satu tanaman obat yang berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit.
3.      Cara pemakaiannya bisa dikombinasikan dengan tanaman obat atau bahan lain, bisa juga hanya menggunakan alang-alang saja.

B.  Saran
Sejalan dengan simpulan tersebut, maka penulis merumuskan saran sebagai berikut,
1.      Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui dan memanfaatkan zat aktif yang terkandung dalam alang-alang.
2.      Masyarakat, khususnya petani sebaiknya tidak memusnahkan semua alang-alang di lahan pertanian, tapi menanamnya secara terpisah dengan tanaman lain supaya tidak mengganggu untuk selanjutnya alang-alang tersebut dimanfaatkan untuk obat herbal.



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembahasan Laporan Praktikum Farmasi Fisika

Pembahasan Laporan Praktikum Farmasi Fisika