Pembahasan Laporan Praktikum Farmasi Fisika
PEMBAHASAN Kelarutan 2
Pada
tanggal 23 Februari 2015 telah dilaksanakan Praktikum Farmasi Fisika yang
berjudul “Kelarutan” dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pelarut campur
terhadap kelarutan zat. Kelarutan merupakan konsentrasi zat terlarut di dalam
larutan jenuhnya pada suhu dan tekanan tertentu. Dalam definisi lain, kelarutan
obat adalah jumlah ml pelarut di mana akan larut 1 gram zat terlarut.
Pada
percobaan ini, akan ditentukan kelarutan luminal dalam campuran pelarut yang
terdiri dari air, alkohol dan propilen glikol dengan perbandingan yang berbeda
antara alkohol dan propilen glikol, sedangkan volume airnya tetap. Jadi, yang
dibandingkan adalah luminal lebih larut
dalam volume alkohol atau propilen glikol.
Pelarut
yang digunakan sebanyak 25 ml terdiri dari air sebanyak 15 ml, sedangkan sisanya
adalah alkohol dan propilen glikol dengan perbandingan sebagai berikut:
1. 0
ml alkohol dan 10 ml propilen glikol
2. 2
ml alkohol dan 8 ml propilen glikol
3. 4
ml alkohol dan 6 ml propilen glikol
4. 5
ml alkohol dan 5 ml propilen glikol
5. 6
ml alkohol dan 4 ml propilen glikol
6. 7
ml alkohol dan 3 ml propilrn glikol
7. 8
ml alkohol dan 2 ml propilen glikol
8. 10
ml alkohol dan 0 ml propilen glikol
Setelah
pelarut tersebut tercampur, maka ditambahkan luminal sedikit-sedikit sampai
larutan jenuh. Larutan jenuh adalah larutan yang mengandung zat terlarut dalam
maksimal yang dapat terlarut. Larutan tersebut dikocok selama 1 jam dengan
mempertahankan kejenuhan larutan. Saat terlihat luminal sudah mulai larut, maka
ditambahkan sedikit lagi. Kemudian, saring larutan tersebut. Fitrat, yaitu air
sisa saringan di titrasi dengan NaOH sebagai titran dan fenolftalein sebagai
indikator sebanyak 3 tetes.
Kelarutan
didefinisikan sebagai konsentrasi zat terlarut di dalam larutan jenuhnya pada
suhu dan tekanan tertentu. Pada percobaan ini, kita memang tidak menggunakan
variasi suhu maupun tekanan, tapi yang perlu diperhatikan bahwa kelarutan
merupakan konsentrasi zat terlarut, dalam hal ini adalah luminal di dalam
larutan jenuhnya, akan tetapi kita tidak mengetahui pasti perbandingan antara
luminal dalam pelarut untuk membentuk larutan jenuhnya. Oleh karena itu,
dilakukan penambahan luminal sedikit-sedikit tanpa ditimbang terlebih dahulu,
sambil dikocok larutan dibuat tetap jenuh. Tujuan dilakukan pengocokan selama 1
jam adalah untuk menghindari kesalahan dalam nemetapkan larutan tersebut sudah
jenuh, karena jika hanya di kocok selama 5 atau 15 menit dikhawatirkan luminal
akan kembali larut. Sebenarnya, dalam penelitian seharusnya dilakukan
mengocokan selama 72 jam menggunakan orbital shaker dan diamati setiap harinya,
namun karena ini hanya praktikum dengan keterbatasan waktu dan alat, maka hanya
dilakukan mengocokan selama 1 jam secara manual.
Untuk
mengetahui kadar luminal dilakukan titrasi alkalimetri dengan menggunakan NaOH
sebagai titran dan fenolftalein sebagai indikator. Hal ini karena luminal
bersifat asam, sehingga dalam titrasi menggunakan titran NaOH yang bersifat
basa. Indikator yang digunakan fenolftalein yang merupakan indikator yang
rentang pHnya 8 – 10, sehingga tidak berubah warna pada keadaan asam (luminal)
dan akan berubah warna saat kelebihan sedikit NaOH yang bersifat basa dengan
menunjukan warna merah muda.
Setelah
dilakukan titrasi, titran yang dipergunakan adalah sebagai berikut: 6 ml; 7 ml;
7,5 ml; 8,2 ml; 9,6 ml; 8,2 ml; 10,5 ml; dan 14,3 ml. Sehingga diperoleh
kelarutan sebagai berikut: 5,572 mg/ml; 6,501 mg/ml; 6,966 mg/ml; 7,616 mg/ml;
8,916 mg/ml; 7,616 mg/ml; 9,75 mg/mldan 13,218 mg/ml. Terlihat bahwa semakin
banyak volume titran yang digunakan, semakin besar pula kelarutan luminal. Jika
dilihat dari persentase pelarut, kenaikan kelarutan berbanding lurus dengan
persentase alkohol yang semakin besar. Hal ini menunjukan bahwa semakin banyak
alkohol ditambahkan, maka luminal semakin larut. Hasil ini sesuai dengan
literatur yang menyatakan bahwa luminal sukar larut dalam air, namun mudah
larut dalam alkohol. Walaupun dalam praktikum tidak seluruh percobaan
menunjukan hasil yang linier, karena saat pengocokan dilakukan oleh orang
berbeda dengan kekuatan yang berbeda sehingga mempengaruhi terhadap luminal
yang larut dalam pelarut.
Tujuan
dari digunakannya pelarut campur yaitu air, alkohol dan propilen glikol karena
jika luminal hanya dilarutkan dalam pelarut tunggal, yaitu air saja tidak akan
larut sehingga diperlukan penambahan pelarut lain. Hasil dari praktikum
menunjukan bahwa luminal lebih larut menggunakan pelarut campur, fenomena ini
dikenal dengan co-solvency. Sedangkan pelarut yang ditambahkan untuk menaikan
kelarutan zat dinamakan co-solvent, dalam hal ini adalah alkohol dan propilen
glikol. Namun, zat terlarut dalam percobaan, yaitu luminal ternyata lebih larut
dalam alkohol daripada propilen glikol.
Hal
tersebut terjadi karena air bersifat sangat polar sedangkan luminal
kepolarannya rendah sehingga sukar larut. Ingat mengenai aturan pelarutan yaitu
“like dissolves like”. Pelarut polar mempunyai konstanta dielektrik tinggi yang
dapat melarutkan zat polar, sedangkan zat non polar sukar larut. Sedangkan
alkohol lebih rendah kepolarannya dibanding propilen maupun air, sehingga dapat
menurunkan kepolaran pelarut mendekati kepolaran zat terlarut. Itulah yang
menyebabkan kelarutan luminal berbanding lurus dengan besarnya persentase
alkohol dalam pelarut campur.
KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil praktikum, disimpulkan bahwa semakin banyak persentase alkohol sebagai
pelarut campur antara air dan propilen glikol, maka kelarutan luminal semakin
tinggi, volume alkohol: 0 ml; 2 ml; 4 ml; 5 ml; 6 ml; 7 ml; 8 ml dan 10 ml,
kelarutan luminal: 5,572 mg/ml; 6,501 mg/ml; 6,966 mg/ml; 7,616 mg/ml; 8,916
mg/ml; 7,616 mg/ml; 9,75 mg/ml dan 13,218 mg/ml. Walaupun ada beberapa
percobaan yang tidak menunjukan liniear karena kesalahan dalam pengocokan yang
dilakukan oleh orang berbeda dengan kecepatan dan kekuatan berbeda.
Salam farmasi indonesia,,,,ijin ngambil,
BalasHapusCatatankuliahfarmasi.blogspot.com