Love and Truth

         Sebenarnya ini bukan cerpen original aku (mianhea ^^), ini cerpen my friend dan aku cuma memberikan sentuhan akhir *cie elah :D. Ya, cuma bantu edit aja he he he 
Silahkan dinikmati..... eh, dibaca maksudnya :D. Kritik dan saran sangat diharapkan ^^

LOVE AND TRUTH
            Yui adalah seorang anak perempuan yang cantik, rajin dan pintar. Dia siswi SMA Negeri  7 Tasikmalaya, sekarang sedang duduk di kelas XII. Di kelasnya, dia adalah siswi teladan yang bisa diandalkan oleh teman-temannya. Ayahnya adalah seorang dokter yang sangat ahli dan dijuluki “Dokter Penyembuh Ulung”. Hal itu membuat ayahnya jarang di rumah, sehingga dia kurang mendapat perhatian dari ayahnya apalagi ibunya telah meninggal dunia, sehingga dia tumbuh tanpa kasih sayang orangtuanya.
            Walaupun seperti itu, dia tetap mendapat kasih sayang dari Rio, sahabat sekaligus kekasihnya. Dialah orang yang selalu membantu, menemani dan menjadi teman curhatnya. Rio sangat menyanyangi dan mencintai Yui, begitupun sebaliknya.
            Seperti biasa, keseharian Yui di sekolah sangat sibuk terlebih lagi dia adalah Ketua ekstrakulikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR). Setiap pulang sekolah, Rio yang mengantarnya pulang ke rumah. “Pulang sekarang, cinta?”, tanya Rio mesra tapi penuh canda. “Iya say, yuk pulang”, jawab Yui berusaha tersenyum walauoun sangat lelah. Mereka pun pulang bersama-sama.
            Sesampainya di rumah, seperti biasa ayah Yui tidak pulang karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sudah biasa seperti ini, sendiri di rumah, pikirnya. Si Dokter Ulung baru pulang keesokan harinya, ketika Yui mau berangkat ke sekolah. “Baru pulang, Pa?”, tanya Yui lemah lembut. Tapi Papanya tidak memperdulikan Yui, malah langsung masuk ke rumah. Hal itu membuatnya sedih hingga berlinang air mata, kepalanya pun terasa sakit, namun tak dihiraukan. Tak lama kemudian Rio datang menjemput, mereka pun berangkat bersama.
            Di sekolah, Yui terlihat murung dan tidak konsen ketika belajar. Rio berusaha menghiburnya, sepulang sekolah dia mengajak Yui pergi ke pantai Cipatujah, tempat favorit mereka berdua. Setibanya disana, mereka langsung bermain air di pantai sesekali berlarian kecil dan bersenang-senang. Mereka juga bisa berteriak, menghilangkan beban mereka.
            Ketika mereka sedang bersenang-senang, tiba-tiba Yui tersungkur dan pingsan. Rio langsung menolong dan membawanya ke Rumah Sakit terdekat. Setibanya di RS, Yui langsung diperiksa. Rio sangat khawatir dan mondar-mandir tak karuan menunggu Yui diperiksa.
            Dokter pun selesai memeriksa Yui setelah beberapa lama, Rio langsung menghampirinya. “Dok, bagaimana keadaan Yui?”, tanya Rio. “Maaf Dik, dia mempunyai penyakit parah. Dia terkena kanker otak stadium akhir”, jawab dokter. “Apa? Kanker otak?”,tanya Rio dengan sangat terkejut. “Ya, dan Yui harus segera dipindahkan ke RS yang lebih lengkap peralatannya untuk segera di operasi”, tambah dokter. Rio sangat terpukul mendengar hal tersebut, kakinya sampai lemas lalu dia duduk di bangku.
Ya, ternyata Yui menderita penyakit kanker otak. Dia memang sering merasakan sakit di kepalanya, namun tak dihiraukan. Dia hanya sesekali meminum obat untuk mengurangi rasa sakitnya. Tak ada satu pun yang diberitahu, termasuk Rio dan Papanya, dia tak ingin membuat mereka khawatir, apalagi hubungannya dengan Papanya tidak begitu baik. Hasilnya penyakitnya pun tambah parah hingga stadium akhir.
            Setelah agak tenang, Rio menelpon ayahnya Yui untuk memberitahukan keadaan Yui tapi tidak ada jawaban. Sudah dicoba beberapa kali, telponnya tetap tidak di angkat,di sms juga tidak ada balasan. Rio pun berinisiatif membawa Yui ke RS di Jakarta tanpa sepengetahuan ayahnya Yui.
             Setelah tiba di Jakarta, Yui langsung di operasi oleh tim dokter ahli, tetapi hasilnya nihil. Para dokter memvonis sisa umur Yui tidak lebih dari seminggu. Rio pun sangat sedih menghadapi kenyataan tersebut, tapi dia tidak henti berdo’a pada Tuhan supaya menyembuhkan Yui.
            Rio pun menelpon ayah Yui,setelah beberapa kali mencoba akhirnya diangkat juga. Mendengar penjelasan dari Rio, ayah Yui sangat terpukul dan segera pergi ke Jakarta. Setiba di Jakarta, dia langsung masuk ke kamar Yui yang sedang ditemani Rio. Yui terlihat tegar menghadapi cobaan ini, bahkan dia masih bisa tersenyum. Dia bahagia, karena di sisa hidupnya bisa ditemani orang-orang yang paling dia sayangi.
            Ayah Yui yang notabenenya seorang dokter, terus berusaha menyembuhkan Yui. Tapi apa mau dikata, takdir berkata lain. Yui meninggal 3 hari setelah kegagalan operasi. Rio dan ayahnya sangat sedih sekali. Buat Rio, dia kehilangan kekasih yang sangat dia cintai. Bagi ayahnya, dia kehilangan anak sematawayangnya, permata hatinya yang takkan tergantikan. Sungguh ironis memang, seorang Dokter Ulung yang banyak menyembuhkan orang, tidak bisa menyembuhkan bahkan tidak tahu penyakit anaknya sendiri. Satu-satunya penghibur mereka adalah sepucuk surat dari Yui yang dititipkan pada perawat. Surat bersampul biru, khas Yui, karena itulah warna favoritnya.

Teruntuk Papa dan Rio yang Yui sayangi,
Pa, Rio . . .
Kalau nerima surat ini, berarti Yui udah ga ada di dunia ini, mungkin Yui udah di surga, nyusul Mama yang udah pergi duluan.
Untuk Papa, Yui ucapkan terima kasih karena sudah memberi nafkah buat Yui, menyekolahkan Yui. Sampai akhir hayat Yui, Papa ada di samping Yui. Tapi itu belum cukup Pa, selama ini Papa terlalu sibuk bekerja sehingga kurang memperhatikan Yui, bahkan Papa jarang pulang, Yui merasa kesepian di dunia ini. Yui ingin sekali diperhatikan Papa seperti dulu, ketika Yui masih kecil, ketika Mama masih hidup. Saat itu adalah masa terindah di hidup Yui. Tapi Yui mencoba berusaha mengerti semuanya, Yui berusaha tegar. Yui cukup bahagia dengan ditemani Papa di sisa akhir hidup Yui.
Untuk Rio, terima kasih karena selalu ada buat Yui, selalu memperhatikan dan memberikan kasih sayang yang tidak dapat Yui dapatkan dari orang tua. Yui ingin Rio bisa mendapatkan kekasih lagi yang lebih baik dari Yui. Maaf harus meninggalkanmu secepat ini. Yui pun ingin sekali bersama Rio lagi, mungkin kita bisa bertemu di surga nanti.
Yui harap, Papa dan Rio selalu ziarah ke makam Yui dan selalu mendo’akan Yui. Jangan bersedih Pa, Rio...Yui ingin kalian tetap bisa hidup bahagia walau tanpa Yui.
Terima kasih untuk semuanya, Yui sayang Papa dan Rio J
                                                                                    (Yui_Love & Truth)

Mereka menangis tersedu membaca surat itu, terutama ayahnya Yui, dia sampai pingsan. Setelah itu, jenazah Yui pun disemayamkan di samping makam ibunya. Sepeninggal Yui, ayah Yui berhenti jadi dokter, dia membuat panti asuhan. Disanalah dia mencurahkan seluruh kasih sayang yang seharusnya dia berikan kepada Yui ke anak-anak di panti asuhan. Sementara Rio, dia telah menemukan pengganti Yui, wajahnya mirip sekali dengan Yui. Rio tidak bosan-bosan melihat sampul surat dari Yui yang bertuliskan “Love and Truth”.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembahasan Laporan Praktikum Farmasi Fisika

Pembahasan Laporan Praktikum Farmasi Fisika

Makalah Alang-Alang